Hasna Gadis Penjual Kraca

Sore itu, hujan turun dengan sangat lebat.. aku duduk di mobil, dalam perjalanan pulang ke rumah. Ketika sudah hampir sampai rumah, aku melihat sesosok bayangan berjalan dalam hujan. Ya, bayangan anak kecil perempuan berpayung hitam dengan sebuah keranjang di tangannya. Mungkin masih seusia anak kelas 3 atau bahkan masih kelas 2 SD.

Spontan kepalaku menoleh mengikuti bayangan itu. “Apakah dia tidak merasa kedinginan?” pikirku. Apa yang dia lakukan di luar sana di tengah hujan lebat? bukankah anak-anak akan lebih aman jika berada di dalam rumah?” Ah sudahlah, kenapa aku harus banyak berpikir ya, padahal aku kenal anak itu saja tidak.

Secangkir coklat hangat kesukaanku sudah menanti setelah mandi sore. “Hmmm, Bundaku sungguh baik dan perhatian sekali,” kataku dalam hati. Aku pun meminum coklat hangat sambil membaca ulang pelajaran yang kudapat di sekolah hari ini. Saat ini aku sudah kelas 4 dan sedang bersiap untuk ujian akhir semester.

Sayup-sayup kudengar suara anak perempuan dari kejauhan. Rasa penasaran menghinggapi diriku. Aku keluar kamar dan melihat dari balik jendela ruang tamu. Tampak hujan sudah mulai reda, dan betapa kagetnya aku, ternyata suara itu adalah suara anak perempuan yang kulihat tadi.

Rupanya dia berteriak untuk menawarkan dagangan yang ia bawa dalam keranjang. Ya, anak perempuan itu adalah gadis penjual kraca. Bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya tidak asing dengan istilah makanan ini.Kraca adalah jenis makanan olahan dari keong sawah yang dibuat dengan kuah seperti bumbu rica-rica.

Spontan kupanggil dia agar mendekat. “Dik…dik…sini, coba lihat dagangannya…”

“Silahkan kak, satu bungkusnya dua ribu rupiah saja…” katanyamenawarkan dagangan.

Kulihat di dalam keranjangnya masih banyak bungkusan yang belum terjual. “Aku beli 5 ya kracanya,” kataku

Baik, kak” jawabnya. Dengan sigap dia mengambil 5 bungkus dan memasukkan ke dalam tas plastik lalu menyerahkannya padaku.

“Terima kasih, tunggu sebentar ya, aku ambil uang dulu” jawabku. Tak lama kemudian aku keluar sambil membawa uang dan secangkir coklat hangat di tanganku.

“Ini uangnya ya. Ayo duduk dulu sebentar dan minumlah coklat ini agar tubuhmu hangat”kataku sambil mengajaknya duduk di teras rumah. Dengan malu-malu dia menerima dan mengikuti langkahku.

Sambil minum, aku banyak bercerita dengannya. Hasna, itu namanya. Rupanya dia sebaya denganku, hanya saja karena tubuhnya lebih kecil jadi kukira dia lebih muda dariku. Dia adalah anak tunggal, ayahnya pemulung sampah dan baru sebulan yang lalu meninggal karena tertabrak mobil sedangkan ibunya membuat kraca untuk dijual. Hasna berjualan kraca setiap sore untuk membantu ibunya membiayai sekolah dan kehidupannya.

Terdengar kumandang azan Maghrib, dia pun berpamitan pulang. Aku mengantarnya sampai pintu gerbang rumahku sambil memandanginya sampai dia tidak tampak lagi. Malam harinya aku teringat pada Hasna. Di usianya yang sama denganku dia harus menjalani hidup yang sulit, tidak sepertiku yang apa-apa sudah tersedia. Justru kadang aku masih kurang bersyukur dengan kehidupanku.

Keesokan harinya ketika sedang sarapan bersama ayah dan bunda, aku menceritakan tentang Hasna pada mereka. Bagaimana keadaan dan perjuangan hidupnya. Setelah mendengar ceritaku, ayah bunda rupanya ingin bertemu dengannya. Di sekolah perasaanku tidak tenang, tidak sabar rasanya ingin cepat pulang dan menunggu sore hari agar bisa bertemu dengan Hasna.

Cuaca sore ini cukup cerah, angin berhembus sepoi-sepoi. Aku menunggu Hasna dengan gelisah di teras rumah. tak berselang lama, aku melihatnya di ujung gang sedang menawarkan kraca.

“Hasnaa…sini”panggilku sambil melambaikan tangan. Dia menoleh dan langsung berjalan ke arah rumahku.

”Assalamualaikum….” begitu sapanya ketika sampai di rumahku

“Wa’alaikumsalam… ayo sini duduk dulu” kataku.Segera kupanggil ayah dan ibu untuk bertemu dengan Hasna. Banyak hal yang ditanyakan oleh ayah bunda, sampai akhirnya sore itu ayah bunda mengajakku untuk mengantarkan Hasna pulang.

Hasna tinggal di kampung belakang perumahanku. Sesampainya di sana, aku merasa iba. Mereka tinggal di rumah sempit dan sederhana. Ayah bunda berjumpa dengan Ibu Hasna. Ternyata, ayah bunda ingin mengambil Hasna menjadi anak asuh dan mengajak mereka tinggal bersama di rumahku. Ibu Hasna menyetujui hal tersebut dan sangat berterima kasih pada kedua orang tuaku. Hasna dan ibunya tidak perlu lagi berjualan kraca. Mereka bisa hidup dengan lebih baik.

Alhamdulillah, betapa bersyukur dan bahagianya aku karena aku sekarang tidak lagi sendiri, aku punya saudara perempuan dan teman bermain di rumah. Terima kasih ayah dan bunda untuk kebaikan hati kalian.[]

Oleh: Bunda Naira Alodya P., Kelas 4 An Najm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *